mengambil dari sumber lain…semoga bermanfaat, dan membantu pencerahan… Terimaksih untuk yang telah mempublishnya, karena telah membantu kegundahan hati saya bnyk berkurang..
barangkali diantara teman2 pun sdh ada yg tau… bagi yg sdh tau, sama2 mengingatkan, dan yg belm tau, insyaallah menambah cerita baru…
“Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik.” (Al-Qur`an: Al-Imron ayat 14)
SIapa yang tidak kenal dengan seorang Ali bin Abi Thalib?. Dia adalah contoh luar biasa untuk para remaja terutama hal yang berkaitan dengan merah jambu (a.k.a cinta). Tapi jangan samakan Ali dengan cerita cinta Julius Cesar yang rela kehilangan kehormatan, kesetiaan dan bahkan negaranya demi si Ratu Penggoda, Cleopatra. Bukan juga, seperti kisah serumit Romeo & Juliet yang rela kehilangan keluarga, dan tentu saja nyawa. Bukan cerita mirip Laila Majnun yang buta karena cinta. Dia tidak berlaga seperti Cassanova apalagi sebagai seorang Arjuna. Ketampanan Ali pun tak seperti Nabi Yusuf A.S. Ali juga tidak mengerti kata-kata Jalaluddin Rumi : “cinta akan membuat yang pahit menjadi manis dan dengan cinta tembaga menjadi emas dengan cinta yang keruh menjadi jernih dan dengan cinta, sakit menjadi obat dengan cinta yang mati akan menjadi hidup dan cintalah yang menjadikan seorang raja menjadi hamba sahaya dari pengetahuanlah cinta seperti tumbuh”. Dia hanyalah seorang yang menyandarkan rasa cintanya kepada Allah Swt.

Ali bin Abi Thalib seorang yang tidak tahu kalau dia sedang jatuh hati pada seorang Fatimah. Terpesona karena kesantunannya, ibadahnya, kecepatan kerjanya, dan parasnya. Ia mulai benar-benar sadar ketika Fatimah membela ayahnya Rasulullah Saw di depan para pemuda Quraisy. Hatinya pun mulai bergetar ketika seorang Abu Bakr Ash Shiddiq R.A melamar Fatimah. “Allah mengujiku rupanya” kata itulah yang keluar dari mulutnya. Ia merasa diuji karena merasa Ia dan Abu Bakr tidak sebanding. Mungkin karena ia bukan kerabat dekat nabi seperti Ali tapi keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah banyaknya tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr. Utsman, Abdurrahman bin Auf, Zubair, Saad ibn Abi Waqqash. Ini yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang pemuda yang kurang pergaulan seperti Ali. Bagaimana dengan Finansial??jelas sangat jauh. Ali hanya seorang pemuda miskin. Ia bergumam “Inilah persaudaraan dan cinta. Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, dan aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah atas cintaku. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan”.
Waktu pun berlalu, Allah menumbuhkan tunas harap di hatinya kembali setelah mengetahui dan terheran-heran karena lamaran Abu Bakr ditolak. Namun, ujian lain datang kembali. Kali ini yang melamar Fatimah adalah seorang Al Faruq siapa lagi kalau bukan Umar ibn Al Khaththab. Seorang laki-laki yang sejak masuk islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka. Seorang laki-laki yang membuat syaitan takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. Ali pun sadar dilihat dari segi apapun sangat jauh dan ia pun ridha. “Umar lebih layak. Inilah persaudaraan dan cinta. Aku mengutamakan Umar atas diriku, dan aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah atas cintaku. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan”.
Semenjak itu seorang Ali pun tidak pernah berhenti memperbaiki dirinya hingga pada suatu ketika mendengar lamaran umar ditolak. Ia bingung sebenarnya menantu seperti apa yang diinginkan Rasul. Akhirnya dengan keberaniannya dan bermodal dorongan dan dukungan dari sahabat-sahabat ansharnya, ia berangkat untuk melamar Fatimah. Dan dengan bingung Ali hanya diberi jawaban “Ahlan wa Sahlan”. Mendengar hal tersebut para shabat ansharnya memberikan selamat bahwa artinya lamarannya diterima. Ali pun kaget bukan main. Dan Ali pun menikahi Fatimah dengan menggadaikan baju besinya karena itu merupakan harta dia satu-satunya. Fatimah tidak melihat hartanya tapi melihat betapa hebat pengorbanannya, melihat keistiqamahan dalam memperbaiki dirinya dan kecerdasannya dalam menilai kelemahan dirinya.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, Umar, dan Fatimah. Dengan keneraniannya untuk menikah. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. Ali adalah gentleman sejati. Tidak aneh kalau pemuda di arab sering berucap “Laa fatan illa Aliyyan”. Tak ada pemuda kecuali Ali. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan”.
Ternyata hal yang sama dilakukan oleh Fatimah. Dalam suatu riwayat, ketika Ali dan Fatimah sudah menikah, Fatimah berkata kepada Ali “maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah merasa jatuh cinta satu kali pada seorang pemuda”. Ali terkejut dan berkata “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku?dan siapakah pemuda itu?. Sambil tersenyum Fatimah berkata “ya, karena pemuda itu adalah dirimu”. So Sweet. . .Sungguh romantic. Tapi esesnsinya bukan disitu. Kisah ini ada agar kita lebih banyak belajar bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama sebelum mereka menikah tetapi denga rapat keduanya menjaga perasaan itu. Perasaan yang insya Allah akan indah pada waktunya.
Ali dan Fatimah adalah sebuah kisah yang sebenarnya dapat membuat kita belajar bahwa cinta itu bukan suatu kata benda yang mungkin dapat dipertuhankan sehingga membuat buta tentang fitrah yang telah diberikan Allah tersebut. Apa yang Ali lakukan tentang cinta adalah sebuah kata kerja. Sebuah kata kerja yang dapat menyandarkan cintanya kepada Sang Pencipta. Sebuah kata kerja yang membuat dia terus memperbaiki diri. Sebuah kata kerja yang membuat dia sadar akan kelemahannya. Dan sebuah kata kerja untuk belajar dan mendengarkan hati nuraninya.

Sumber : Jalan Cinta Para Pejuang: Salim A. Fillah, 2008
Surat untuk para ikhwan : Kireina Hana (thread terbaik my Qur’an 2004)
kalimat yang terus teringat dan membuat saya jauh lebih menghargai cinta:
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan.